Kultwit : Kisah Orang-orang Mulia Penuh Ilmu by @salimafillah



1. Al Maghfurlah KH Bisyri Syansuri dari Denanyar, Jombang adalah kakek Gus Dur & @Gus_Sholah dari pihak Ibu, yakni Ny. Hj. Solechah. #Ilmu

2. Sementara Allahuyarham KH Abdul Wahab Hasbullah dari Tambakberas, Jombang, adalah kakek buyut dari M. Romahurmuzy; Sekjen PPP. #Ilmu

3. Kedua beriparan inilah pilar utama NU sejak didirikan, di sisi Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari, Tebu Ireng. Inilah secuil kisah. #Ilmu

4. Mbah Bisyri dikenal sebagai ‘Alim yang teguh memegang dalil dengan pemahaman zhahir nash-nya. Suatu hari beliau didatangi orang. #Ilmu

5. Sang tamu menyampaikan bahwa dia telah meniatkan ber-qurban sapi untuk seluruh anggota keluarganya yang berjumlah 7 orang. #Ilmu

6. Tapi beberapa hari sebelumnya, telah lahir seorang bayi sebagai anggota keluarga barunya. Nah, bolehkah Qurban-nya untuk 8 orang? #Ilmu

7. Mbah Bisyri menjawab; “Tidak boleh! Sebab dalil-nya menyatakan jelas, 1 sapi hanya boleh untuk paling banyak 7 orang. Tidak lebih!” #Ilmu

8. Si penanya tadi meng-iya-kan. Tetapi rupanya dia masih ingin melanjutkan niatnya ber-Qurban dengan kemenyatuan seluruh keluarga. #Ilmu

9. Maka yang bersangkutan sowan pada Mbah Wahab di Tambakberas. Pertanyaan yang sama diajukan. Nah, apa jawab beliau, RahimahuLlah? #Ilmu

10. Kata Mbah Wahab, “Ya boleh. Tapi karena yang ke-8 masih bayi, dia nanti akan kesulitan naik saat menunggang sapinya ke surga..” #Ilmu

11. “..Maka agar dia bisa ancik-ancik (berpijakan) tuk naik ke sapi, tambahkan 1 ekor kambing sebagai hewan Qurban kalian sekeluarga.” #Ilmu

12. Sang penanya manggut-manggut & pulang dengan sukacita. Mbah Wahab telah bicara ‘dengan bahasa & sesuai kadar pemahaman’ penanya. #Ilmu

13. Konon, saat Mbah Bisyri mendengar hal tersebut beliau tersenyum & membaca ujung QS 12: 76, “Wa fauqa kulli dzii ‘ilmin ‘Aliim.” #Ilmu

14. Arti bebasnya; “Dan di atas tiap-tiap pemilik ilmu, ada yang jauh lebih dalam ilmunya.” Kalimat ini juga pernah dibaca Imam Ahmad. #Ilmu

15. Kisahnya terjadi pada suatu musim haji. Saat itu berhimpunlah 3 ‘ulama ahlul hadits; Ishaq ibn Rahawayh, Ahmad, Yahya ibn Ma’in. #Ilmu

16. Mereka hendak menemui Imam ‘Abdurrazaq, penulis Kitab Al Mushannaf. Tapi di pintu Masjidil Haram, tampak seorang pemuda berwibawa. #Ilmu

17. Dia duduk di kursi indah & dikelilingi oleh begitu banyak orang yang bergantian menanyakan berbagai macam persoalan hadits & fiqh. #Ilmu

18. Ketiga ‘alim itu bertanya, “Siapakah pemuda ini?” Seseorang menjawab, “Faqih-nya Quraisy dari Bani Muthalib, Muhammad ibn Idris.” #Ilmu

19. Selama ini ketiganya baru mendengar nama Asy Syafi’i yang masyhur; baru kali ini mereka melihatnya. Sungguh masih muda & tawadhu'. #Ilmu

20. Yahya ibn Ma’in; pakar dalam Jarh wat Ta’dil (ilmu kritik kelayakan Rawi hadits), segera menyuruh Imam Ahmad menguji Asy Syafi’i. #Ilmu

21. “Coba tanyakan padanya hadits Nabi SAW: ‘Biarkan burung dalam sarangnya!”, ujar Yahya. {HR Abu Dawud 2835, Ahmad 6/381-422.. #Ilmu

22. ..Al Humaidi 345, Ath Thayalisi 1634, At Tirmidzi 1516, An Nasa’i 7/164, Ibnu Majah 3162}. Ahmad menanyai Yahya: Apa tafsirnya? #Ilmu

23. Kata Yahya, “Sefahamku, biarkan burung dalam sarangnya, yakni pada malam hari.” Imam Ahmad tersenyum, sebab itu pemaknaan beliau. #Ilmu

24. Ishaq ibn Rahawayh menyahut, “Baiklah, aku yang akan menanyainya!” Maka dia memanggil Asy Syafi’i, “Wahai pemuda Bani Muthalib!” #Ilmu

25. “Ya wahai ‘Alim-nya orang 'Iraq!”, sahut Asy Syafi’i. Lalu Ishaq menanyakan tafsir hadits itu. Yang ditanya tersenyum tawadhu’. #Ilmu

26. “Aku mendengar bahwa sahabat kalian Ahmad ibn Hanbal menafsirnya sebagai; biarkan burung dalam sarangnya, yakni pada malam hari.” #Ilmu

27. “Adapun aku”, lanjut Asy Syafi’i, “Mendapatkan hadits itu dari Sufyan ibn ‘Uyainah. Ketika itu, aku telah menanyakan tafsirnya.” #Ilmu

28. Tetapi Ibn ‘Uyainah menjawab, “Demi Allah, aku tidak tahu apa maksud hadits ini.” Aku berkata, “RahimakaLlaah Ya Aba Muhammad.” #Ilmu

29. Seketika Ibn 'Uyainah menggigil, berkeringat dingin, & beristighfar berulang kali sebab takut meriwayatkan hadits tak terfahami. #ilmu

30. “Maka”, sambung Asy Syafi’i, “Ibn ‘Uyainah menggamit tanganku & mendudukkanku di kursinya. Ketika itu, usiaku baru awal belasan." #Ilmu

31. Ibn 'Uyainah berkata; "Engkau seorang Quraisy hingga lebih memahami RasuluLlah serta kebiasaan bangsa Arab. Ajari kami tafsirnya!" #ilmu

32. Maka Asy Syafi’i saat itu dengan penuh ta’zhim membahas maknanya. Dia berkata; “Dahulu, orang Jahiliah jika hendak bepergian…” #Ilmu

33. “..Mereka menangkap burung, lalu melepaskannya lagi dengan mantra. Jika burungnya terbang ke kanan, ia dianggap pertanda baik..” #Ilmu

34. “..Mereka akan melangsungkan perjalanannya. Tapi jika si burung terbang ke kiri atau ke belakang, ia dianggap pertanda buruk..” #Ilmu

35. “..Sehingga mereka mengurungkan niat safarnya. Ketika RasuluLlah melihat hal ini [tathayyur] masih mentradisi, maka sabdanya: ..” #Ilmu

36. “..Biarkanlah burung di dalam sarangnya. Berangkatlah pada pagi hari dengan menyebut asma Allah.”, demikian Asy Syafi’i bertutur. #Ilmu

37. Para ‘ulama yang hadir berdecak takjub akan #Ilmu Asy Syafi’i. Ishaq ibn Rahawayh tersenyum pada 2 rekannya & berkata; “Demi Allah…

38. …Andai kita datang berjalan kaki dari ‘Iraq hanya tuk mendengar makna hadits ini saja, cukuplah itu bagi kita!” Ahmad mengangguk. #Ilmu

39. Lalu bergumamlah Ahmad dengan menukil QS 12: 76 tadi, “Wa fauqa kulli dzi ‘ilmin ‘Alim.” {Manaqib Asy Syafi’i, Al Baihaqi, 1/308} #Ilmu

40. Peristiwa ini adalah awal perkenalan Imam Asy Syafi’i dengan Imam Ahmad nan membuat mereka bersahabat & saling berguru seterusnya. #Ilmu

41. Saat murid-murid Asy Syafi’i keberatan mengapa beliau mengunjungi Ahmad yang mereka anggap muridnya, Asy Syafi’i melantun syair. #Ilmu

42. “Semua kemuliaan ada pada Ahmad. Jika dia mengunjungiku, itu kemurahan hatinya. Jika aku mengunjunginya, itu sebab keutamaannya.” #Ilmu

43. Suatu hari Yahya ibn Ma’in menegur Ahmad yang dianggapnya merendahkan ilmu hadits nan mulia dengan menuntun kendaraan Asy Syafi’i.#Ilmu

44. “Katakan pada Yahya”, jawab Ahmad, “Aku berada dalam kemuliaan, yang jika dia inginkan keluhuran serupa, marilah ke sini bersua..” #Ilmu

45. “..Akan kutuntun keledai Asy Syafi’i di sebelah kiri, dan silakan dia menuntunnya dari sisi yang kanan. Itulah jalan kemuliaan.” #Ilmu

46. “Selama 40 tahun aku berdoa”, ujar Ahmad kelak, “Tak pernah alpa kusebut nama Asy Syafi’i bersama semua pinta.” Ditanyakan kenapa? #Ilmu

47. “Asy Syafi’i adalah mentari bagi siang dan obat bagi penyakit, maka siapakah yang tak menghajatkan keduanya?” Ahmad pun bersaksi: #Ilmu

48. “Di tiap 100 tahun Allah bangkitkan seorang mujaddid untuk memelihara agamaNya. Di abad lalu dialah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, dan..” #Ilmu

49. “..Di abad ini, dialah Asy Syafi’i.” Adapun Asy Syafi’i selalu berkata pada Ahmad, “Kau lebih tahu tentang hadits, maka bawakan..” #Ilmu

50. “..padaku yang shahih dari Nabi SAW, baik dari 'Iraq maupun Syam.” Adapun hadits Hijjaz, Yaman, & Mesir Asy Syafi'i lebih tahu. #Ilmu

51. "Dulu fiqh terkunci pada ahlinya", ujar Ahmad, "Lalu Asy Syafi'i membukanya hingga kami tahu Bayan, 'Am & Khas, Nasikh & Mansukh." #ilmu

52. "Kutinggalkan Baghdad", ujar Asy Syafi'i, "Dan tak seorangpun yang lebih hafizh, 'alim, faqih, zahid, & wara' daripada Ahmad." #ilmu

53. Demikian secuil kisah orang-orang penuh #Ilmu Shalih(in+at), moga terteladani oleh kita jalan mulia nan mereka tempuh dengan perjuangan.

54. Jalan #Ilmu adalah jalan kerendahan hati. Seperti firmanNya ternukil, “Di atas tiap-tiap pemilik ilmu, ada yang jauh lebih berilmu.”:)

Share on Google Plus

About daeng PKS

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar