Kultwit @anakjugamanusia : Budaya Membangun Karakter pd Anak

Dear Parents, malam ini kami akan Kultwit tentang Budaya Membangun Karakter pd anak di  Semoga Manfaat
1. Kisah luar biasa ini ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI & Penulis beberapa buku Best Seller) 
2. lima belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pd guru sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat 
3. masalahnya, karangan bhs Inggris yg ditulis anak saya seadanya, diberi nilai E (excellence) yg artinya bagus sekali 
4. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa Inggris 
5. Karangan yg ia tulis itu pernah ditunjukkan kpd saya & saya mencemaskan kemampuan verbalnya yg terbatas 
6. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sgt sederhana, Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah 
7. Rupanya karangan itulah yg diserahkan anak saya kepada gurunya, & bukan diberi nilai buruk, malah dipuji 
8. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan?  
9. Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri 
10. Sewaktu saya protes, ibu guru hny bertanya singkat, "Maaf Bpk dari mana?" “Dari Indonesia” jwb saya. ia pun tersenyum 
11. BUDAYA MENGHUKUM ///// Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya 
12. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat 
13. "Saya mengerti", jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu 
14. "beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini” lanjut ibu guru 
15. "Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai, Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum 
16. melainkan untuk merangsang orang agar maju (Encouragement!), Dia pun melanjutkan argumentasinya 
17. “Saya sdh 20th mengajar, tiap anak ber’beda2, utk anak sebesar itu, baru tiba dr negara yg bhs ibunya bkn bahasa Inggris” 
18. “saya dpt menjamin, ini adlh karya yg hebat", ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yg dibuat anak saya 
19. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga, kita tdk dpt mengukur prestasi org lain menurut ukuran kita 
20. Saya teringat betapa mudahnya menyelesaikan studi saya yg bergelimang nilai "A", dari program master hingga doktor 
21. Sementara di Indonesia, saya hrs selesaikan studi jungkir balik dgn ancaman drop out & para penguji yg siap menerkam 
22. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan 
23. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian 
24. Penguji marah-marah, tersinggung, dsb, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi 
25. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement 
26. hasilnya pun bisa diduga, tingkat kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul 
27. Org yg tertekan tyt blakangan saya temukan jg menguji dgn cara menekan, Ada semacam dendam & kecurigaan 
28. Saya berpikir pantaslah anak2 di sana mampu mjd penulis karya2 ilmiah yg hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel 
29. Bkn krn mrk punya guru yg pintar scr akademis, namun karakternya sgt kuat, karakter yg membangun 
30. "Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan” 
31. Rapor anak-anak disana ditulis dalam bentuk verbal dan rapornya tidak diberi nilai merah 
32. melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut ; 
33. "Sarah telah memulainya dgn berat, dia mencobanya dgn sungguh2, namun Sarah tlh menunjukkan kemajuan yg berarti"
34. MELAHIRKAN KEHEBATAN ///// Bisakah kita mencetak orang2 hebat dgn cara menciptakan hambatan & rasa takut? 
35. Bukan tdk mustahil kita adlh generasi yg dibentuk oleh sejuta ancaman, gesper, rotan pemukul, 
36. tangan bercincin batu akik, kapur & penghapus yg dilontarkan dgn keras oleh guru, sundutan rokok, dst 
37. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman; “Awas...; Kalau...; Nanti,...” 
38. dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah 
39. Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin 
40. namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat 
41. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan 
42. Bantulah anak-anak kita untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti 
43. para ortu/pendidik yg hebat, tulisan dari Prof. Rhenald Kasali, sangat menghentakkan hati 
44. bukan tdk mungkin, kekerasan baik fisik maupun verbal yg kita lihat di TV, entah itu demo2 / bahkan di Parlemen 
45. hasil dari budaya mendidik yg mengedepankan kekerasan fisik maupun verbal, & sayangnya byk org percaya bhw cara2 itu benar
46. PR besar ada di pundak kita, mampukah kita melahirkan generasi yg lebih baik dibanding generasi kita? 
47. mampukah kita melahirkan generasi yg santun? Mampukah kita melahirkan generasi yg karakternya membangun? 
48. mampukah kita menuntaskan PR besar ini, dgn cara lebih sabar & berlatih u/ mendidik anak2 dgn hati? 
Demikian Parents, Kultwit malam ini di  semoga bermanfaat, kami doakan anda Sehat selalu 
Terima Kasih banyak buat Pak  , Tulisan Anda Kami jadikan Kultwit di , sangat menggugah hati para ortu/pendidik
Share on Google Plus

About daeng PKS

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar