Jangan Sarungkan Pedangmu


oleh : Muhammad Ilham



Aku yakin dirimu masih ingat, sahabat. Kala kita berpanas matahari di atas aspal dalam balutan asap kendaraan. Basah berhujan-hujan, menggigil dengan ransel dan slayer yang setia merangkul pundak dan lehermu. Lantang berteriak, menantang dan mengepalkan tinju ke atas.

Aku yakin dirimu masih ingat, sahabat. Kala argumen berbasis fakta dalam bentuk tututan,hanya menemui tebok-tembok bisu birokrasi. Suara serakmu yang terkuras dalam lantunan tilawah menutup subuh, hanya menjadi nyanyian bisu di telinga mereka.

Aku yakin dirimu masih ingat, sahabat. Kala letih badanmu menyelesaikan tugas menumpuk di kampus, harus merasakan kerasnya sepatu laras dan perihnya pukulan rotan. Dan badan yang letih itu pula yang kau tegakkan di sepertiga akhir malam.

Aku yakin dirimu masih ingat, sahabat. Semua itu kita lakukan untuk menentang 1 kata : TIRANI. Maka letih badanmu seolah menguap. Panas, hujan, debu kendaraan, tidak dianggap, kesakitan bahkan darah tidak berefek apa-apa selain menambah semangat keyakinanmu bahwa ini adalah bagian dari perjuangan yang juga dialami oleh generasi sebelummu.

Dan sekarang, di sinilah kita sahabat. Di lingkungan baru yang mungkin sudah jauh dari jalanan. Namun jangan padamkan semangat perlawananmu. Sebab darah kita masih sama, hati, akal dan cita-cita kita tidak berubah. Sebab TIRANI itu masih ada. Sebab kita tetap menolak perbudakan dan arogansi. Meski kita bukan lagi di jalanan, tetaplah MELAWAN. Karena perlawanan bisa memanifestasikan dirinya dalam beragam bentuk.

Karena kita manusia merdeka, Maka 'Jangan Sarungkan Pedangmu!'
Share on Google Plus

About PeKaeS Makassar

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar