Keberanian PKS dalam Pilwali Makassar


Direktur Riset IDEC, Rahmad M Arsyad, memaparkan hasil survei.
JUJUR pada Pemilihan Walikota Makassar, saya mesti salut pada Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang berani mengusung salah satu kader andalannya Tamsil Linrung untuk berlaga di Pilwali Makassar. Pasalnya, Tamsil selama ini dikenal adalah anggota DPR-RI dengan jam terbang nasional bukan sekedar 'jagoan lokal'.

Langkah PKS Makassar,  mengingatkan saya kepada sosok Nur Mahmudi Ismail, mantan Menteri Pertanian yang  di usung untuk menjadi Walikota Depok. Sebuah upaya yang tidak main-main dari PKS, sekaligus memberikan sinyal politik bahwa di PKS figuritas senantiasa mesti kalah jika di perhadapkan dengan struktur.

Langkah yang patut diapresiasi ditengah gejala dimana Partai senantiasa menjadikan patron tokoh diatas struktur. PKS ibarat miniatur negara yang senantiasa berdiri pada state formation (formasi negara) yang mengedepankan struktur dan bukan tergiring sekedar  pada kekuatan dan  kepentingan social formation (formasi sosial).

Walau tak bisa disangkal pula, dalam banyak kasus PKS sering terjebak pada kepentingan praktis dan dilema antara ‘suara dan syariah’. Antara kehendak jamaah dan kepentingan praktis politik. Sebuah resiko yang mesti diambil oleh PKS  dengan spirit Partai Dakwah yang hidup dalam sistim sekuleristik demokrasi langsung.


Pilihan Berisiko

Keputusan PKS dalam Pilwali Makassar untuk memajukan kadernya sendiri memang mengandung resiko yang cukup besar. Pertama, angin politik yang menerpa PKS secara nasional memang sedang tidak baik. Utamanya pasca kasus suap daging impor yang mengakibatkan presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq terseret ke meja hijau.

Parahnya lagi, kasus ini membawa sesuatu yang bisa mengarahkan pada situasi sentimen dalam benak pemilih, utamanya kehadiran ‘wanita-wanita dalam pusaran kasus daging impor’. Walau ini merupakan isu nasional, namun akibat pemberitaan tersebut pasti mempengaruhi pemilih secara lokal utamanya ‘kaum perempuan’.

Sebagai partai kader PKS  pasti mengalami dilemma,  yaitu terjadinya penyamaan antara struktur dan aktor.  Serangan atas PKS secara nasional dalam suap kasus daging impor pasti berdampak pula sampai pada pemilihan walikota Makassar. Stereotype buruk atas perlakuan Ahmad Fatonah (AF) yang dinilai berhubungan langsung dengan Luthfi Hasan Ishaaq tak bisa dipandang sepele. Apalagi AF memiliki proximity dengan Sulawesi selatan!

Kedua,  mencalonkan tokoh yang berkiprah dalam pentas nasional juga tak selamanya baik dan cenderung mengandung resiko yang lebih besar. Walau pada satu sisi selama ini Tamsil Linrung senantiasa membangun figure sebagai sosok yang dekat dengan Makassar karena mewakili daerah pemilihan Sulsel.

Pelajaran tersebut sebenarnya dapat di lihat pada kasus pemilukada Jakarta, dimana Hidayat Nur Wahid mantan presiden PKS dan mantan ketua MPR terbukti tak bisa mendongkrak kemenangan PKS pada pemilihan Gubernur Jakarta. Beda halnya ketika PKS justru dengan kekuatan internal mampu memenangkan pemilihan Gubernur Jawa Barat hanya dengan mengandalkan struktur kader dan birokrasi pada aras lokal dibawah pimpinan Ahmad Heryawan yang melebur dan menggabungkan diri dengan gaya sang Jenderal Nagabonar yang memiliki popularitas yang baik.

Ketiga, faktor durasi dan konteks pertarungan dalam pilkada Makassar. Jujur saja dalam pandangan saya, keputusan PKS dalam memajukan Tamsil Linrung sebagai kandidat walikota tergolong lambat. Pasalnya ibarat ‘perang kurusetra’ PKS termasuk bagian  armada terakhir yang datang ke arena.

Polarisasi kekuatan politik sudah terlanjur terbentuk dalam beberapa poros besar. Sementara itu PKS baru akan memulai start. Berbeda dengan kontestan lain yang  dari awal  telah bekerja. Walau sebenarnya tidak boleh juga dikatakan tidak bisa, karena buktinya beberapa kandidat yang maju dan hari ini ramai di bicarakan baru muncul di paruh terakhir.

Dalam politik sebagaimana definisi politik itu sendiri adalah bagian dari ‘seni kemungkinan’, dimana segala hal bisa saja terjadi. Kadang banyak kandidat yang sudah lama melakukan sosialisasi politik namun tak dapat bersuara banyak karena pada akhirnya berhadapan dengan seleksi elit ataupun lamban dalam membangun polarisasi pemilih.


Pasangan Ustad

Media massa kemudian mengeluarkan kejutan PKS menyangkut  pendamping Tamsil Linrung,  yakni dai kondang asal Makassar  Das’ad latif.  Sekali lagi ini merupakan kejutan baru. Pasalnya sosok das’ad selama ini dikenal sebagai seorang ulama atau penceramah yang sering digunakan oleh pasangan kandidat untuk mengisi kampanye pemilukada.

Inilah uniknya jika akhirnya sosok Das’ad dipilih menjadi calon itu sendiri. Tentu sedikit banyaknya Dasad pastilah memilki potensi popular vote yang lumayan besar utamanya dalam kelompok majelis taklim ataupun basis pemilih masjid. Kejutan ini menjadi kado bagi warga Makassar bahwa selain figur pengusaha, politisi, birokrat terdapat juga figur ustad yang maju pula berlaga.

Sebuah  fenomena yang menjelaskan betapa pemilihan walikota Makassar saat ini mewakili sejumlah kelompok profesi dengan berbagai latar belakang. Setidaknya Ustad Dasad menjadi ikon dari betapa puralnya calon walikota Makassar, serta betapa beragamnya motif politik dalam sebuah arena Pilwali.


Maksimalisasi mesin dan Jejaring politik

Modalitas utama pasangan Tamsil dan Das’ad latif dalam konteks Pilkada Makassar tentu saja kader PKS itu sendiri. Dengan memaksimalkan jejaring politik kader PKS secara efektif, pasangan ini tak bisa dipandang sebelah mata. PKS memiliki struktur militan yang di gawangi oleh kaum muda dengan basis perkotaan sebagaimana ciri utama PKS selama ini secara nasional.

Namun ada satu masalah teknis yang kadang terlupa. Apakah para kader yang sebahagian besar berbasis dikampus ini memiliki hak suara? Karena terkadang banyak kader PKS tidak terdaftar sebagai pemilih, utamanya karena mereka di Makassar berstatus mahasiswa dan tidak memiliki kartu pemilih.

Persoalan besar lain yang dihadapi oleh pasangan ini, adalah melakukan komunikasi politik terhadap non kader. Mungkin disinilah peran besar Ustad Dasad untuk melakukan komunikasi politik pada jejaring politik islam  lebih pural. Apalagi sebagai seorang alumni dan dosen komunikasi Ustad Dasad memilki pengetahuan membangun komunikasi yang sederhana dan mampu di terima oleh pemilih.

Dengan dua modalitas tersebut, dua pasangan ini tentu saja akan turut meramaikan semaraknya Pilwali yang sudah semarak. Setidaknya menjadi peneduh diantara panasnya aroma politik dan pertarungan kekuasaan orang-orang besar. Karena politik toh, masih merupakan ‘seni kemungkinan’!(*)



Penulis :

Rahmad M Arsyad

Direktur  Riset IDEC

http://www.celebesonline.com/2013/05/31/keberanian-pks-dalam-pilwali-makassar.htm
Share on Google Plus

About PeKaeS Makassar

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar