Tamsil-Das'ad: Satu Rumah Satu Pohon


Makassar (24/6) - Salah satu permasalahan yang saat ini dihadapi oleh daerah perkotaan di Indonesia adalah minimnya ruang terbuka hijau (RTH). Kawasan metropolitan pada umumnya memiliki RTH jauh dari ketentuan, termasuk Makassar. Hal inilah yang membuat Tamsil-Das'ad menggagas program "Satu rumah satu pohon" untuk memperbanyak RTH privat di rumah-rumah.

Juru bicara tim pemenangan Tamsil-Das'ad, E. Z. Muttaqien Yunus, menerangkan tentang minimnya RTH di Makassar. "Ruang terbuka hijau Makassar hanya 7 persen, padahal syarat RTH menurut undang-undang tentang penataan ruang adalah 30 persen dari luas kota," ungkap Muttaqien.

Magister manajemen perkotaan Universitas Hasanuddin ini menambahkan bahwa ruang terbuka hijau berfungsi untuk meminimalisir kondisi lingkungan yang tidak sehat, yang sebagian besar disebabkan oleh pembuangan limbah-limbah industri dan kendaraan. Sehingga menurutnya, pemerintah dan masyarakat harus bersinergi untuk mewujudkan 30 persen area RTH.

"Kita tidak ingin pembangunan di Makassar maju tanpa memperhatikan aspek-aspek lingkungan. Juga sering kita jumpai banyak tanah pekarangan rumah yang tidak termanfaatkan dan akhirnya menjadi kering. Karena itulah kami berinisiatif membagikan bibit pohon ke setiap rumah. Kami sudah mulai program ini di Kelurahan Tamalanrea," tambahnya.

"Diharapkan dengan program satu rumah satu pohon ini ruang terbuka hijau privat semakin banyak dan udara Makassar menjadi lebih bersih. Selain ruang terbuka hijau privat, kami juga akan mengupayakan ruang terbuka hijau publik dengan membenahi taman-taman kota, sehingga ketentuan 30 persen ruang terbuka hijau dapat kita penuhi," pungkasnya.
Share on Google Plus

About PeKaeS Makassar

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar