Puasa dan Syukur | Tausiyah oleh Tamsil Linrung

Jakarta - 'Asy-syukr', 'asy-syukuru', 'asy-syukran' secara bahasa artinya 'Al-hamdu' (ucapan terima kasih) dan 'Ats-tsana' (pujian). Sedangkan 'qurbanu asy-syukri' artinya pemberian sebagai tanda terima kasih. (Kamus Al-munawwir, Ahmad Warson Munawwir)

Sedangkan Ahmad Ibnu Faris dalan mu'jam Maqoyisul lughoh menulis bahwa 'asy-syukru' artinya ada empat:

1.Pujian terhadap seseorang karena terkenal dengan kebaikannya
2.Penuh dan melimpah.
3.Tunas yang pertama kali tumbuh pada tumbuhan.
4.Menikah

Sedangkan menurut istilah (terminologi) asy-syukru adalah "zhuhuru atsari ni'matillahi 'ala lisani 'abdihi I'tirofan, wa 'alaa wa tho'athan.". Artinya, nampak dampak nikmat Allah pada lisan hambanya berupa pengakuan, pada hatinya berupa rasa takut dan cinta (kepada Allah), dan pada anggota tubuhnya berupa ketundukan dan kepatuhan).

Ada yang mengatakan hakekat syukur adalah ridha, namun menurut Ibnu Qoyyim dalam Madarijus Salikin-nya, syukur lebih tinggi dari ridha. Ridha merupakan satu tahapan dalam syukur, sebab mustahil ada syukur tanpa ada ridha.

Menurut definisi syukur di atas, bahwa syukur harus meliputi tiga hal:

Pertama, lisan harus mengakui seluruh ni'mat yang tercurah dan dinikmatinya datang dan bersumber dari Allah.
Kedua, hatinya merasa takut dan mencintai Allah, dalam hati setiap pencinta memang akan selulu berkumpul dua rasa ini sekaligus, ketika ada cinta yang mendorong perasaan ingin berjumpa, selalu dekat dan bahagia jika besama yang dicintai, pada waktu yang bersamaan juga akan timbul perasaan takut; takut cintanya tidak berbalas, takut dimurkai, dan takut ditinggalkan.
Ketiga, sebagai bukti hati yang takut dan mencinta, maka seluruh anggota tubuh harus tunduk dan patuh kepada perintah dan keinginan yang dicintainya.

Oleh karenanya, syukur akan terjadi ketika seseorang mengetahui nikmat, dan pengetahuan nikmat ini akan membuka jalan kepada pengetahuan siapa pemberi nikmat itu, jika ia mengetahui pemberi nikmat, tentu akan mencintainya dan bersungguh-sungguh dalam mengharapkan-Nya.

Ibnu Qoyyim dalam Madarijus Salikin menukil perkataan pengarang Manazilus Sa'irin, "syukur merupakan istilah untuk mengetahui nikmat, karena mengetahui nikmat ini merupakan jalan untuk mengetahui pemberi nikmat. Karena itu Allah menamakan Iman dan Islam di dalam Alquran dengan syukur."

Mengetahui nikmat merupakan salah satu dari beberapa rukun syukur, bukan karena ia bagian dari syukur, bahwa syukur itu merupakan pengkuan terhadap nikmat, pujian kepada Allah karena nikmat itu dan mengamalkan nikmat seperti yang diridhai-Nya, tapi karena mengetahui nikmat ini merupakan rukun syukur yang paling besar, sehingga syukur mustahil ada tanpa mengetahui nikmat. (Madarijus Salikin, Ibnu Qoyyim).

Keutamaan Syukur:

1.Syukur merupakan indikator kemurnian tauhid
Sebagaimana firman Allah dalam surah al-baqarah: 172 yang Artinya, "dan, bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepadanya kalian menyembah."

2.Dipelihara dan ditambah nikmat 
Firman Allah dalam surah ibrahim yang Artinya: "Dan (ingatlah) tatkala rabb kalian memaklumkan, Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmatku), maka sesungguhnya adzabku sangat pedih"€ (Ibrahim: 7)

3.Terhindar tipu daya setan
Allah berfirman tentang tekad iblis terhadap anak Adam yang artinya, "Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur." (Al-A'raf: 17)

4.Terbebas dari siksa neraka
Allah berfirman yang artinya, "Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui."€ (An-nisa: 147).

5.Husnul jaza (balasan yang terbaik)
Allah berfirman yang artinya, "Inilah balasan untukmu, dan segala usahamu disyukuri (diterima dan diakui Allah)." (Al-Insan: 22)

Puasa, salah satu hikmah pensyariatannya adalah menajamkan pengetahuan terhadap nikmat Allah, karena selalu lekatnya kita dengan nikmat, maka kita akan kehilangan nilai dan harga nikmat tersebut. Ia tidak mengetahui kadar kenikmatan, kecuali jika sudah tidak ada di tangannya. Dengan hilangnya nikmat, berbagai hal mudah dibedakan.

Ketika seseorang merasakan perihnya lapar akan tersadar betapa nikmatnya kenyang dan ketika merasakan tidak enaknya dahaga akan tersadar betapa nikmatnya terlepas dari dahaga itu. Ketika seseorang berbuka puasa menenggak segarnya segelas air putih, dan merasakan betapa segarnya ketika air tersebut mengalir dari mulut dan masuk ke kerongkongannya setelah seharian menahan lapar dan dahaga, maka dari lerung hatinya yang paling dalam akan keluar ucapan 'alhamdulillah' dan ia pun bersyukur atas nikmat tersebut. Inilah yang diisyaratkan oleh hadits riwayat Ahmad dan Tirmidzi, ketika Nabi saw bersabda yang artinya:

"Rabbku pernah menawariku untuk menjadikan kerikil emas di Makkah. Aku menjawab, “tidak, wahai Tuhanku. Tetapi (berikan) aku kenyang sehari dan lapar sehari. Apabila aku lapar, aku merendah sembari berdzikir kepada-Mu, dan apabila aku kenyang, aku memuji-Mu dan bersyukur kepada-Mu."

Lihatlah firman Allah dalam surah al-baqarah ayat 185, yang artinya di bawah ini:

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir (dinegeri tempat tinggalnya) pada bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu; dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan, hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur."

Ayat di atas menjelaskan bahwa di antara hikmah pensyariatan puasa adalah 'wa la'llakum tasykurun', untuk mendidik orang-orang yang beriman agar menjadi pribadi-pribadi yang pandai bersyukur.

Oleh : Tamsil Linrung
*Penulis adalah tokoh masyarakat Sulawesi Selatan

sumber : http://ramadan.detik.com/read/2013/07/15/161902/2303279/626/
Share on Google Plus

About PeKaeS Makassar

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar