Ibu Cincu, Srikandi Humas Pertama Partai Keadilan di Sulsel

Pada apel siaga kader PKS se-Sulsel di Lapangan Hertasning (22/02), Presiden PKS, Anis Matta memanggil seorang ibu muda untuk naik ke atas panggung. Anis memperkenalkan bahwa perempuan yang akrab disapa Ibu Cincu ini adalah relawannya pada pemilu 1999 lalu, perempuan yang naik panggung ditemani anak laki-lakinya itu hanya tersenyum di hadapan ribuan kader PKS Sulsel. Banyak kader PKS yang tidak menjumpai pemilu tahun 1999 bertanya-tanya siapa gerangan Ibu Cincu dan bagaimana sepak terjangnya dalam agenda pemenangan pemilu tahun 1999 lalu. Untuk menjawab pertanyaan itu, tim media PKS Sulsel melakukan wawancara langsung dengan Ibu Cincu.

>>>>
Sepak Terjang Dalam Bidang Humas

Pemilu tahun 1999 adalah moment bersejarah bagi perempuan bernama lengkap Wahidah Eka Putri itu. Banyak pengalaman yang tak terlupakan, mulai pengalaman unik, suka duka dan heroiknya memperjuangkan dakwah lewat Partai Keadilan (PK). Saat itu, Ibu Cincu masih tercatat sebagai mahasiswi tingkat akhir di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, dia sudah memangku sebuah amanah di DPW PK Sulsel sebagai anggota tim Humas. Saat itu DPW PK diketuai oleh Surya Darma, dan Humas DPW PK diketuai Ali Arifin.

Sosok peramah ini adalah satu-satunya akhwat yang menjadi anggota tim Humas di Partai Keadilan Sulsel. Menurutnya, itulah sebabnya Anis Matta mengenal dirinya. "Saat itu jumlah kader masih sedikit, kita berbagi peran, saya diamanahkan masuk ke humas, satu-satunya akhwat." kata Ibu Cincu.

Perempuan kelahiran 03 oktober 1974 ini mengaku bahwa menjadi Humas di tahun 1999 itu sangat menantang apalagi untuk ukuran Partai Keadilan yang saat itu baru seumur jagung. "Saat itu belum ada twitter, facebook seperti sekarang, mengundang media untuk meliput kegiatan Partai keadilan itu sangat susah. Disitulah tantangannya, bagaimana humas menghadirkan wartawan surat kabar, Televisi dan radio lokal untuk meliput acara kita." Kenang ibu Cincu.

Menanggapi perkembangan humas PKS saat ini, ibu yang juga pengguna aktif sosial media itu mengaku sangat mengapresiasi seluruh humas PKS, karena bisa memanfaatkan teknologi informasi dengan baik. "Alhamdulillah melihat geliat dakwah di sosial media itu sangat positif." Ungkapnya. Srikandi pertama humas Partai Keadilan Sulsel ini juga berpesan kepada humas PKS agar tidak kaku dalam berinteraksi dengan orang lain. "Sebagai humas kita tidak boleh kaku, harus cair, kesan ekslusif itu harus dihapuskan." Pesan Ibu Cincu.

Jadi Relawan Anis Matta

Perumpuan yang berdarah campuran Bugis-Tionghoa itu ikut membersamai Anis Matta dalam sosialisasi sebagai caleg DPR-RI dapil 1 Sulsel. Dia menyertai Anis dalam anjangsana ke media-media lokal. "Saat itu Anis Matta belum menjadi siapa-siapa,  dia bukan pejabat publik, jadi kemana-mana kita belum dikenal, termasuk saat kami kunjungan ke media." Kata Ibu dari 3 anak ini.

Menjabat sebagai anggota tim Humas membuat waktu perempuan berpenampilan sederhana itu banyak tersita oleh kegiatan partai. Dia mengaku sering pulang malam karena agenda humas yang sangat padat. "Kami biasa rapat untuk merumuskan isu apa yang akan kita angkat ke media sampai larut malam." Ungkapnya.

Pada pemilu 1999 dia masih berstatus lajang, menurutnya itu juga yang membuat waktunya lowong dalam agenda pemenangan. "Waktu itu masih lajang, kalau saat ini anak sudah tiga orang, jadi waktunya tidak lowong seperti dulu lagi." Lanjut Perempuan berkacamata itu.

Beruntung saat itu Ibu Cincu dari keluarga yang berada, ayahnya menyiapkan fasilitas kendaraan berupa mobil untuk digunakan ke kampus, dengan mobil itu pulalah Ibu Cincu melaksanakan tugas dakwahnya sebagai humas.

Kisah Anis Matta dan Pengamen Losari

Sosok yang menamai dirinya Ibu Pembelajar ini mempunyai cerita unik tentang Anis Matta dan pengamen Pantai Losari. Menurutnya, Pria kelahiran Bone itu selalu memiliki ide-ide segar, contohnya pada tahun 1999 Anis Matta mengumpulkan pengamen Pantai Losari dan mengajarinya lagu Partai Keadilan, anak-anak itu kemudian mengamen di sepanjang pantai losari  dengan menyanyikan lagu Partai Keadilan. "Jadi para pengamen itu menyanyikan lagu partai keadilan, Islam cinta keadilan, takkan takut akan rintangan." Ungkap Ibu Cincu sambil menyanyikan lagu yang berjudul Islam Cinta Keadilan. Dia juga menceritakan tentang Anis Matta yang kadang ketiduran di mobil usai sosialisasi karena kelelahan. "Kadang pak Anis ketiduran di mobil, mungkin karena kelelahan sosialisasi." Kenangnya.

Setiap kali datang ke Makassar dan berkunjung ke kantor DPW PK yang saat itu beralamat di jalan Maccini, Anis Matta selalu mengajak tim humas untuk keluar menyapa masyarakat di sekitar kantor. "Saya melihat bagaimana Anis Matta mengetuk pintu rumah warga dan memperkenalkan diri dari Partai Keadilan. Kami mengekor di belakang beliau turut menyapa masyarakat." Kata Ibu Cincu dengan senyum dikulum.

Bersama Akhwat-Akhwat Tangguh

Bergabung dalam Partai Keadilan di awal-awal dakwah menggeliat membuatnya  merasakan perjuangan para kader dalam sosialisasi dengan dana minim. Namun dia menyaksikan ketangguhan para akhwat yang rela berkorban untuk kerja-kerja dakwah, saat minim atribut karena terkendala dana, maka para akhwat mengumpulkan jilbab warna putihnya untuk disablon dengan logo Partai Keadilan. Menurutnya atribut seperti stiker dan bendera adalah barang mahal dan sangat susah didapat. "Kalau kita dapat stiker, ya Allah senangnya. Kita tempel dengan senang hati di rumah." Kata Ibu Cincu mengenang perjuangannya di tahun 1999.

Jika ada event partai, akhwat yang jadi panitia konsumsi berkumpul pada malam hari untuk memasak konsumsi untuk acara besok, karena dana sangat kurang. "Dulu akhwat masak sendiri, sekarang alhamdulillah kan tidak repot lagi karena tinggal pesan catering jika ada event partai." Lanjutnya.

Walaupun Partai Keadilan tidak lolos Electoral Threshold pada pemilu 1999 dan belum berhasil mengantar Anis Matta ke senayan, namun Wahidah Eka Putri tidak berputus asa. Saat PK harus berganti nama jadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada tahun 2003, Ibu Cincu tetap setia hingga saat ini.

>>>>>

Saat dirinya dipanggil naik ke panggung oleh Anis Matta di acara apel siaga kader PKS Sulsel, Ibu Cincu mengaku kaget dan tidak menyangka bahwa Presiden PKS masih mengenal dirinya. "Saya tidak menyangka pak Anis Matta masih kenal saya." Pungkas Ibu Cincu menutup ceritanya.

Begitulah dakwah mengajari kita untuk selalu mengenang kebaikan saudara seperjuangan, besar atau kecil kontribusi itu tidak akan sia-sia.

Share on Google Plus

About PeKaeS Makassar

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar