Pahlawan tak Punya Ongkos | By @ewahyudie


Malam semakin larut. Pekat menyaput rerimbunan pohon sawit yang berbaris teratur. Angin tak berhembus kencang. Demikian juga Sang Rembulan, tak muncul untuk sekedar menemani lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an yang mengalir lembut dari dalam Masjid Istiqomah yang berdinding papan.

Saya duduk terpekur di pojok Masjid dengan perasaan malu yang tak terkira. Berulang kali diri ini mengukur kadar keikhlasan atas segala perbuatan. Namun, lagi-lagi tersembul kekerdilan jiwa saat mata menatap lelaki tua berpeci hitam kekuningan yang memudar warnanya. Lelaki yang telah mampu mengajarkan bentuk tadhiyah ( pengorbanan ) melalui rangkaian cerita masa lalunya kepada saya.

Dialah Mbah Aswandi 1). Begitu Imam Masjid Istiqomah itu biasa disapa. Beliau lahir di keluharan Donan, Cilacap. Ayahnya seorang pejuang kemerdekaan. Anggota Heiho, yang juga sempat merasakan dahsyatnya kepemimpinan “Ksatria dari Karang Nongko” Jenderal Soedirman. Sementara ibunya adalah ibu rumah tangga biasa.

Aswandi kecil terlahir ketika negeri ini tengah mengalami masa-masa sulit. Cengkraman penjajah masih menggurita seluruh elemen bangsa. Kedudukan anak-anak negeri ini sebagai inlander ( orang jajahan ) tak bisa dikatakan hidup nyaman. Tak terkecuali dengan Aswandi kecil masa itu. Tak pernah makan sampai kenyang, tak jua berpakaian seperti apa yang diharapkan.

Tahun 1945, di Jepang bom atom meledak, Nagasaki dan Hiroshima luluh lantak. Peta kekuatan angkatan perang Dai Nippon-pun berubah. Demikian pula dengan keberadaannya di negeri ini. Beringsut tentara Jepang meninggalkan bumi pertiwi, terlebih para pemuda Indonesia kala itu mampu bertindak tepat, melucuti senjata sebagian mereka yang masih tertinggal. Republik ini menyatakan kemerdekaannya. Menumbuhkan asa yang melambung sesuai cita perjuangan.Tapi perjalanan belum usia rupanya. Tentara sekutu yang tergabung dalam NICA mulai berdatangan untuk kembali mereguk penderitaan bangsa ini.

Namun dari sanalah titik balik perjalanan hidup Aswandi muda. Bara kebencian terhadap para penjajah memantik semangatnya untuk turun ke medan juang. Jiwa patriotisme yang mengalir dari darah Sang Ayah mulai menampakan kesejatiannya. Dalam usia yang masih belia, Aswandi meleburkan diri menjadi seorang relawan. Bergabung dengan Laskar Pejuang yang berada di wilayah Banyumas. Dan, ia mendapatkan tugas sebagai mata-mata. Tugas yang diembannya bukanlah pekerjaan yang mudah. Menggali informasi kekuatan musuh langsung dari sarangnya ibarat mengorek berlian di mulut singa yang ganas. Butuh pengorbanan yang besar dengan nyawa sebagai taruhan.

Namun Aswandi muda ikhlas menjalankan tugas, meski beberapa kali nyawanya hampir melayang di ujung moncong senjata tentara sekutu. Bersamaan dengan itu, keadaan di Surabaya menegang. Mansergh, pimpinan tentara sekutu di Surabaya memberikan ultimatum kepada para pejuang untuk menyerahkan diri dan melakukan gencatan senjata. Ancaman yang ditawarkan tidaklah main-main; Surabaya akan dibumi hanguskan apabila perintahnya tidak diindahkan.

Tapi, seruan Mansergh bertepuk sebelah tangan. Pidato Bung Tomo melalui corong RRI pagi itu, 10 November 1945, melambungkan semangat para pejuang di Surabaya. Pekik takbir mengawal tekad, Merdeka atau Mati!! Para pejuang dan pemuda Surabaya memilih menabuh genderang perang. Berjibaku mempertahankan kehormatan bangsa di sela desing peluru tentara Britania. Tak pelak, berita tangguhnya perlawanan pejuang Surabaya menjalar hingga seantero negeri, tak terkecuali ke Banyumas, di mana Aswandi muda bergabung dengan Laskar Pejuangnya. Tentara sekutu semakin geram, pos-pos para pejuang menjadi incaran untuk segera diberangus.

Dari markas NICA di Binangun, terbetiklah rencana tentara sekutu untuk menyerang para pejuang Banyumas. Melumpuhkan mereka hingga tak ada yang tersisa. Tetapi Allah berkehendak lain. Aswandi dan mata-mata pejuang lainnya mampu mengendus rencana ini. Hingga pagi yang ditentukan, tentara sekutu berangkat dari Binangung untuk menyerang para pejuang di perbatasan Purwokerto.

Namun hal ini didahului para pejuang yang telah mendapatkan informasi dari Aswandi dan mata-mata lainnya. Para pejuang bergerak cepat mengincar Binangun, markas sekutu yang ditinggalkan menjadi sasaran. Dengan mengambil rute berlainan dari arah Jati Lawang para pejuang merangsek memasuki sarang lawan. Tak ayal, tentara sekutu yang tersisa di markas dengan kekuatan tak seberapa harus menghadapi kegagahan Laskar Pejuang Banyumas yang membara.

Baku tembak kembali tak bisa dielakkan. Perang kembali berkecamuk saat embun belum kering dari rerumputan. Namun pagi itulah, pagi yang tak akan terlupakan oleh Aswandi sepanjang hayat. Di tengah pertempuran yang bergelora, Aswandi melihat salah seorang sahabatnya menggapai-gapai dengan kaki bersimbah darah. Seketika ia berlari, kedekatan hati membuatnya tak peduli dengan keselamatan diri. Sekuat tenaga Aswandi menarik sahabatnya menuju tempat tersembunyi. Apa lacur, malang tak dapat ditolak. Tiba-tiba ia merasakan panas merayap ditengkuknya, bercampur rasa sakit, dan keringat dingin yang seketika menjalar. Ya, sebutir peluru tentara sekutu melabrak keperkasaan tubuhnya. Aswandi limbung. Pandangannya memudar. Tak selang berapa lama ia roboh tak sadarkan diri.

Demikianlah Allah berkehendak atas diri Mbah Aswandi, peluru yang tertanam ditengkuk atas ulah tentara sekutu tak jua merenggut jiwanya. Ia selamat. Hingga kini, saat kami bertatap muka dalam suasana penuh keakraban di sebuah Masjid berdinding papan. Berbinar mata lelaki perkasa itu mengisahkan perjalanan hidupnya. Ada kebanggaan yang terselip dari senyumnya.

Ada keikhlasan yang tak terkatakan. Ada keperkasaan yang kini masih tersisa dalam perjuangannya mempertahankan sisa umur. Dengan bekerja di bawah terik matahari, bercucur peluh, bermandi keringat demi sesuap nasi yang ia lakukan di bawah pepohonan sawit yang bukan jua miliknya. Ada satu hal yang enggan saya bicarakan saat itu dengannya. Tentang penghargaan atas semua jasa, tentang tunjangan hari tua, atau bahkan pembicaraan tentang Taman Makam Pahlawan yang memang tak pernah ia dapatkan dari siapapun selama ini.

Tak ada juga cerita tentang utang jasa bangsa ini terhadapnya. Sekali lagi, sungguh kami hanya bercerita tentang perjalan hidup seorang pejuang, tentang seorang pahlawan yang tak punya ongkos untuk pulang ke kampung halaman. Tak lebih!

Kendaraan yang kami tumpangi merayap dalam gelap. Menapaki lubang demi lubang jalanan yang berlumpur. Para da’i Ikadi tak satupun yang bersuara. Semuanya sibuk dalam penghayatan dzikir kepada Allah atas segala penciptaanNya yang sempurna. Mata saya terpejam, ada bersit ingatan tentang sebuah puisi yang pernah saya hafal dulu, puisi yang perlahan kembali saya eja, puisi tentang Pahlawan Tak Dikenal 2), teriring sebaris do’a untuknya. Untuk Mbah Aswandi, yang kini tinggal jauh dari kesejahteraan.

Duri, 17 Ramadhan 1430H
Oleh: Eko Wahyudi
Follow @ewahyudie on Twitter

1) Mbah Aswandi saat ini tinggal di RT XIII, Kelurahan Harapan Baru,Kabupaten Bengkalis. Menjadi Imam di Masjid Istiqomah.

2) Pahlawan Tak Dikenal, puisi karya Toto Sudarto Bachtiar.

_____
http://www.ewamazing.com/2014/04/pahlawan-tak-punya-ongkos.html 

[pksnongsa/pksmakassar]
Share on Google Plus

About PeKaeS Makassar

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar