Wawancara Imajiner Bersama Fahri Hamzah | By @NandaKoswara


Seperti yang diketahui banyak orang, bahwa Fahri Hamzah adalah seorang politisi yang handal. Kalaupun ada sedikit yang tidak tahu akan hal tersebut, sungguh hal ini dapat dimaklumi karena negara kita adalah negara dengan nilai toleransi yang sangat tinggi. Setinggi apa aku tidak tahu, ya fikir fikir saja sendiri.

Kami bertemu di lobby ruang paripurna usai Fahri Hamzah yang akrab dipanggil Bang Fahri itu mengikuti sebuah sidang paripurna. “Sebuah sidang yang baik, semua memberikan masukan dan kritik membangun kepada Pemerintah,” katanya. Setelah mengobrol ringan sambil berjalan, kami sampai di sebuah ruangan yang cukup sejuk karena ada AC-nya, merek-nya aku lupa. Fahri meletakkan barang-barangnya diatas meja sembari mempersilahkan duduk.

Fahri Hamzah: “Mau minum apa?”
Nanda Koswara:”Jus jambu biji, boleh”
Fahri Hamzah : “Adanya cuma air putih, gimana?”
Nanda Koswara : “Ya udah, terserah Bang Fahri aja”

Sejenak Fahri Hamzah yang akun Twitternya @Fahrihamzah itu mengambilkan segelas air dari dapur. Dapur dalam hal ini adalah meja kecil tempat makanan dan minuman terletak, tidak ada kompor dan kuali, tidak ada garam, royco, merica, tepung terigu, kulkas juga tidak ada, jadi tidak bisa memasak cumi goreng tepung disini. 

Fahri Hamzah : “Jadi mau wawancara ya tadi ceritanya?”
Nanda Koswara :”iya iya, jauh jauh nih terbang dari Medan ”
Fahri Hamzah : “Jadi kangen Durian Ucok ih”
Nanda Koswara : “Kapan terakhir ke Medan, Bang?”
Fahri Hamzah : “Pas itu lah, pas kampanye GANTENG. Siapa itu nama wakilnya Pak Gubernur Gatot? 
Nanda Koswara : “Tengku Erry?”
Fahri Hamzah : “Iya, betul. Ohh, mau tanya soal apa ya?”
Nanda Koswara : “Begini, beberapa hari ini aku ikutin Tweet Abang lah ceritanya, dari banyak hal yang menarik adalah kritik membuat Abang cair dan pujian membuat Abang membeku”
Fahri Hamzah : “Terus aku bilang aku ini Ang The Airbender?”
Nanda Koswara :”Hahaha.. lucu Bang pas bagian itu, bisa aja ih”
Fahri Hamzah :”Ya, begini..kan Presiden Anis Matta udah komando ingin menjadikan Politik ini bukan lagi menyeramkann, tapi suatu bentuk edukasi yang menyenangkan”
Nanda Koswara : “Cukup menyenangkan sih, cuma ya kita butuh energi ekstra keras ya Bang untuk bangun itu semua, bukan begitu Bang?”
Fahri Hamzah : “Itu jelas dong, apa yang kita lakukan sudah terlanjur menjadi inspirasi banyak orang. Kerja-kerja politik kita sudah jadi model terapan yang aplikatif dipakai di elemen apa saja di masyarakat, terlebih kita lahir dan tumbuh ditengah-tengah mereka”
Nanda Koswara : “Wah, jadi wawancara serius ini Bang. Udah macam dialog interaktif di televisi kita ini”
Fahri Hamzah : “Hihi.. macam-macam lah, lae”
Nanda Koswara : “Kalau macam gini polanya, tak tegigit lah jelas”
Fahri Hamzah :”Kayak kemarin kita Sahur bareng Presiden di Senen, ada pengamen dateng ke kita... ”
Nanda Koswara : “Nyanyi Bang?
Fahri Hamzah : “Sepak Takraw”
Nanda Koswara : “Oh”
Fahri Hamzah : “Lagunya sih memang oke ku akui jelas, terlebih pesan moral yang mereka sampaikan lewat lagu-lagu mereka, kita seperti diedukasi mereka kalau lagi dengarin pengamen nyanyi, terlebih lagu itu ciptaan mereka sendiri. Itu lagu mereka kan hasil dari serapan, dengar dan lihat mereka di sekeliling, apa yang mereka temui setiap hari. Seharusnya Politik juga begitu, harus peka ke rakyatnya, mendengar langsung dan memutuskan sesuatu yang menjadi kabar baik kepada mereka, kongkrit, karena rakyat suka dengan bahasa bahasa yang kongkrit”
Nanda Koswara :”Apalagi senen memang wilayah penuh kenangan ya nggak Bang.. ?”
Fahri Hamzah :”Kok tau ?”
Nanda Koswara : “Kan Abang cerita cerita di Twitter”
Fahri Hamzah : “Ngomong ngomong soal lagu, jadi inget lagu Rhoma Irama nih”
Nanda Koswara : “Yang lagu ani atau begadang?”
Fahri Hamzah : “Begadang”

Nanda Koswara : “Hak tubuh juga harus dipenuhi bang.. jangan banyak begadang ih”
Fahri Hamzah : “Hard to say lah lae, payah bilang. Kerjaan dan tugas semakin menantang untuk kita benahi sistemnya. Apa namanya.... “
Nanda Koswara : “Apa namanya ?”
Fahri Hamzah : “ Apa namanya.. Itu kita berada pada suatu sistem yang lagi sakit, selain membuatnya bagus, kita harus sembuhin sistem itu dulu, setelah normal baru kita usahakan menjadi kunci pemecahan suatu masalah pada taraf yang membantu rakyat banyak”
Nanda Koswar : “Aku ada tulang di medan ya gitu Bang, workaholic, kalau siang jaga kede, sampai malam masih aja di kede, ada aja yang di kerjainya..”
Fahri Hamzah : “Aku juga punya tulang ... “
Nanda Koswara : “di Medan?”
Fahri Hamzah : “di Jakarta, Tulang Rusuk.. eh kena.. eh kena, jomblo kena.. jomblo kena”
Nanda Koswara : “Aseem ih”
Fahri Hamzah : “Eh, aku ada rapat lagi ini sebentar lagi, malah belum khalash. Mau tunggu disini atau gimana?
Nanda Koswara : “Ya udah Bang, aku juga mau balik Medan nanti sore, ini langsung ke Bandara tapi ng-ODOJ dulu lah disini bentaran”
Fahri Hamzah : ‘Ya udah oke, barengan aku juga nihh.. kefikiran terus nihh kalau belum khalash”
Nanda Koswara :”Iya, tadi aku sempet mau minta lelang aja sih, lagi safar ih”
Fahri Hamzah : “Ga boleh gitu ih, ga bagus itu. Kalau ada waktu sih mending di hajar aja sendiri, biar safarnya juga berkah”
Nanda Koswara : “Hehe.. nggak kok boong, masa Cuma se Juz doank dilelang. Btw, terima Kasih ya Bang, muliate buat wawancaranya, nanti maen ke Medan kabar kabarin lah ah, biar aku siap siapkan Markisa dan Ucok Durian, ya kalau ada waktu selo”
Fahri Hamzah :”Sip, beres lah.. itu tempat wudhu nya di sebelah dispenser, aku mau ke parkiran bentar ya, mushaf ketinggalan di mobil nih. Assalamualaikum”
Nanda Koswara : “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” 


(Jakarta masih macet masih banjir, 29 April 2014)

Oleh: Nanda Koswara
Follow @NandaKoswara on Twitter
Share on Google Plus

About PeKaeS Makassar

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar