106 Tahun oleh Andi Rachmat Arfadly

Indonesia Tanah air beta, pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala selalu di puja-puja bangsa
Disana tempat lahir beta, Di buai dibesarkan bunda
 Tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata
Ismail Marsuki

Kelahiran Budi Oetomo pada tahun 1908, sekaligus tahun tercetusnya hari Kebangkitan Nasional  yang hingga tahun ini, Indonesia sudah memperingatinya selama  106 tahun. Selama 1 abad lebih bukan waktu yang singkat untuk mengetahui potensi dari alam, karakter manusia, budaya dan kearifan lokal yang ada dalam negeri ini.

Berbagai konsep telah dilahirkan dalam bangsa ini mulai dari bhineka tunggal ika, Sumpah pemuda tahun 1928, kemerdekaan di 1945 hingga konsep pembangunan dan pengembangan manusia. Fenomena menarik sejak tahun 2000an atau setelah Indoesia bergabung dalam Negara yang menganut perdagangan bebas seperti ACFTA di Asia.

Dampak dari perkembangan seperti Modernism, liberalism yang sedikit banyaknya telah menghancurkan sikap dan mental generasi muda. Berbagai penyakit juga seperti Hiv/Aids, Narkoba dan KKN mulai merusak cita-cita dan harapan bangsa ini. Dampak dari penyakit ini pelan tapi pasti. Tidak sedikit para pejabat Negara, aktifis , sampai dalam sebuah institusi yang harusnya menjadi penjaga malah terseret.

Semakin maju ilmu pengetahuan, informasi dan teknologi tidak membuat Negara ini semakin baik. Masyarakat di tingkat bawah Seolah Tanpa Negara karena Negara hanya memperhatikan elite yaitu para pejabat tinggi yang kisarannya sekitar 0,2% sedangkan yang tidak menikmati dari pembangunan ini 99,8%. Mereka yang mayoritas ini seperti menjadi kuli di negerinya sendiri.

Politik yang tidak sadar mulai dimainkan di negeri ini, pemilihan langsung yang menandakan sistem demokrasi mulai berjalan dengan harapan melahirkan pemimpin yang berkualitas. Ternyata, tidak ada yang mampu merubah bangsa ini selama tidak ada kesadaran mulai dari sendiri.

Selebrasi dari demokrasi ini, justru banyak melahirkan  para pemimpin yang durjana. Mulai dari pemimpin tingkat dasar hingga menjadi pemimpin yang paling tinggi. Pemilihan langsung yang dipilih oleh rakyat justru ketika berkuasa tidak berpihak untuk kepentingan rakyat. Pembangunan, sering menjadi kambing hitam untuk mengusir mereka dari tanah kelahiran. Benar untuk meningkatkan ekonomi, tapi ekonomi para kapitalis dan neoliberalis.  Kebijakan yang lahir dari para pemimpin seperti ini hanya berlandaskan untung dan rugi, yang sangat jauh  untuk menyejahtrakan orang-orang yang dipimpinnya.

Pada tahun 1945-1965 dibawah kepemimpinan Soekarno. Indonesia menjadi Negara yang merdeka. Berdaulat secara politik, mandiri secara ekonami dan berbudaya. Di masa ini para pemimpin cerdas lahir, mulai dari Soekarno, Muh Hatta, Sutan Syahrir, Tan malaka. Pemikiran mereka banyak mempengaruhi perkembangan dari Negara ini. Mereka semua masih berusia muda namun kecerdasan mereka melampaui usianya.

Setelah 1965-1998 dibawah kepemimpinan Soeharto bangsa ini membawa konsep pembangunan dengan repelitanya. Negara ini menjadi macan asia yang sangat disegani disegala bidang. Dari bidang militer, ekonomi hingga pendidikan. Indonesia juga dimasa ini mampu meningkatkan pertanian secara signifikan dengan konsep Revolusi hijau. Petani merasakan kesejahtraan dari hasil iklim perekonomian yang diciptakan.

Akhirnya era baru memasuki Indonesia, pemerintahan Soeharto bergejolak hingga menyebabkan krisis ekonomi yang mengerikan. Dampak dari krisis tersebut menyebabkan situasi politik dan keamanan yang tidak stabil. Pemerintahan berganti, dan sistem demokrasi dimulai. Pemilihan dilaksanakan dengan langsung, umum, bebas dan rahasia yang akhirnya Indonesia menghasilkan pemimpin baru. Pemimpin baru dengan konsep demokrasi, demokrasi di tengah globalisasi. Dampak dari ketidaksiapan menghadapi sistem demokrasi ditengah hantaman global inilah meningkatnya pengguna Narkoba, Hiv/Aids dan KKN.

Pertanyaannya kemudian, adakah keinginan untuk merubah negeri ini? Masalah pada Indonesia sebenarnya hanya pada manusianya. Ketika keinginan untuk memperbaiki itu ada, maka lakukanlah. Sebelumnya perbaiki diri sendiri, ketika secara pribadi, sikap dan mental itu sudah baik maka naik ke keluarga dan lingkungan yang lebih besar. Perbaiki niat, hingga baik dalam berbuat dan santun dalam bertindak.
Setelah itu, penulis pikir. Bagaimana Ukm bisa bergerak agar lebih memperhatikan local wisdom. Janganlah terlalu jauh mengadopsi pemikiran karena penulis pikir sistem yang berbasis budaya akan lebih cepat meningkatkan perekonomian. Selain karena para pelaku akan lebih paham dan mengerti untuk melaksanakan, juga ada nilai yang sangat besar dalam setiap budaya lokal kita.

Setiap dari generasi muda penulis pikir harus dibekali dengan nilai religi yang baik, setelah itu punya pendidikan yang benar dan paham dari teknologi yang tengah berkembang. Sehingga generasi ini punya benteng yang kuat dari paham luar dan terakhir penulis berharap, Kita bisa menjadi pribadi yg benar, sesuai dengan kearifan lokal.
Share on Google Plus

About PeKaeS Makassar

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar