[Fiksi] Cinta Tanpa Syarat



Minggu Pertama, Maret 2005

Dua wanita berjilbab lebar ini terlibat pembicaraan teramat serius. Tentang masa depan. Tentang pilihan. Tentang pernikahan;

"Saya sarjana, Ustadzah. Tentunya ingin menikah dengan sarjana pula," demikian ungkap Meyda mantap.

"Jadi gelar sarjana mutlak menjadi syarat bagimu? Bagaimana dengan ikhwan bernama Abdullah satu ini, Meyda?" Ustadzah Halimah meneruskan pertanyaan.

"Begitu. Dan syarat-syarat lainnya masih kurang ana rasa. Afwan, Ustadzah...."

Hening merayapi keduanya. Untuk ketiga kalinya Ustadzah Halimah mendapati jawaban serupa dari Meyda. Kata "SARJANA" seolah harga mati untuk Meyda. Ya, itulah inginnya. Bersuamikan seorang lelaki yang telah menempuh jenjang pendidikan minimal S1.

Beberapa lembar kertas yang berisikan biodata seorang lelaki bernama Abdullah itu seolah turut terpaku. Nama yang tak tertuang gelar akademis seolah barang tak laku di pasaran. Bukan sekali. Dua. tiga, bahkan entah kesekian kali berpindah dari satu tangan ke tangan wanita lainnya. Nun, hasilnya tetaplah sama; Ia tertolak!

Dan, Meyda masih berlaku sama. Untuk inginnya. Untuk apa yang ia harap. Menunggu. Menolak. Menunggu. Menolak. Terus. Terulang hingga berhitung tahun.

Hari Kelima belas, Maret 2005

"Bagaimana, Ratna? Apakah bisa menerima yang satu ini?" tanya Ustadzah Halimah di teras sebuah Masjid.

"Sebenarnya ana juga berharap suami yang memiliki pendidikan lebih tinggi atau minimal setara, Ustadzah" timpal Ratna.

"Jadi...?"

"Setelah ana diskusikan dengan keluarga, semuanya menyetujui. Insya Allah ana terima, Ustadzah. Namun, ana juga akan mewujudkan mimpi memiliki suami seorang sarjana, Ustadzah,"

"Lho, jadi bagaimana? Abdullah ini hanya lulusan SMA, Ratna" Ustadzah Halimah terpaku. Kebingungan bergelayut di wajahnya.

"Lanjutkan saja, Ustadzah. Ana setuju atas nama cinta kepada Allah swt. Cinta yang sejatinya tanpa syarat demi menyempurnakan dien yang ana yakini ini," Ratna berkata mantap.

Waktu berlalu. Setiap insan berusaha menggapai mimpi yang ia idamkan. Hingga suatu waktu, ada jawab atas segala usaha. Ada nyata atas segala sungguh yang terlaksana.

Minggu Ketiga November 2013,

Ponsel milik Meyda bergetar. Sebuah tanda pesan masuk tergambar di layar. Jemarinya bergerak. Matanya nanar. Hatinya tergetar. Sebuah nama yang ia kenal dulu, delapan tahun lalu, yang kini jauh berdiam di negeri orang menyapanya. Dengan sebuah nomor yang teramat asing; Dia lah Ustadzah Halimah!

"Assalamu'alaykum. Apa kabar, Meyda? Bagaimana kabar keluargamu? Semoga Allah swt berikan keberkahan untukmu, suami, serta anak-anakmu ya, Nak. Lama kita tak berkirim kabar. Semoga engkau sehat selalu. Wassalam (Halimah, UK)"
Meyda terkesiap. Mematung. Seolah menyesal telah menerima pesan dari Ustadzah yang sejatinya ia rindukan. Satu sosok yang berhitung tahun tak berjalin kabar dengannya. Jemarinya mendadak terasa kaku. Meski sebuah pesan terangkai jua;

"Wa'alaykumussalam wr wb. Alhamdulillah, ana sehat, Ustadzah. Afwan, sampai hari ini ana belum....."

Pesan balasan Meyda terkirim. Jauh melewati batas samudera. Menerobos dinding jiwa yang remuk redam. 32 tahun sudah kini usianya. Sendiri. Entah takdir, entah mimpi...

***

Di tempat lain, mata Ratna berbinar memandang layar ponselnya. Lekas ia mendatangi Abdullah, suaminya yang sedang berada di teras.

"Lihat. Ustadzah Halimah mengirim pesan, Bi. Duh, kangen banget rasanya ingin berjumpa beliau," Ratna berseru sumringah.

"Iya. Sama. Atas perantara beliau kita bisa begini ya.... Buruan balas dong, Mi"

Cepat jemari Ratna bergerak. Kata demi kata terangkai untuk Ustadzah Halimah;

"Wa'alaykumussalam wr wb. Alhamdulillah, kami semua sehat, Ustadzah. Apa kabar di sana? Atas do'a Ustadzah, ana jadi juga dapat suami sarjana. Mas Abdullah kuliah beberapa bulan setelah kami menikah. Sekarang sudah selesai. Kapan pulang ke Indonesia, Ustadzah?"

Tak lama berselang, ponsel Ratna kembali bergetar. Jauh dari seberang, Ustadzah Halimah membalas pesannya;

"Tahniah, Ratna. Dengan cinta tak bersyarat, Allah swt ijabah mimpimu. Subhanallah... dapat juga suami sarjana ya? Walaupun kuliahnya nyambi jadi bapak rumah tangga. Hehe. Akhir Desember pulang. Insya Allah. Allah yubariik fiiki,"

Nun jauh di seberang sana, hati Ustadzah Halimah bergolak. Ia melihat dua orang yang sama-sama ia cintai berdiri pada sisi yang berbeda. Meyda memiliki jalan berbeda. Pun demikian dengan Ratna. Ia menghela nafas panjang. Relung jiwanya bergumam; "Allah swt Maha Berkehendak. Ini tentang pilihan. Tentang sebuah pembelajaran. Tak lebih!" (*)



Ditulis oleh: Eko Wahyudi

Follow Twitter: @ewahyudie
_________________________________________________________
[pksbengkalis.org/pksmakassar]
Share on Google Plus

About PeKaeS Makassar

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar