Bismillah, di malam yg sejuk ini, marilah kita bershalawat untuk Rasulullah SAW. Ya Allah muliakanlah oleh-Mu Muhammad & keluarganya. Shalawat kita sampaikan untuk memperingati kelahiran dan mendoakan Nabi Muhammad SAW, Nabi akhir zaman, pembawa kebenaran Al Qur'an.

Tanggal 2 Januari adalah hari yang unik dan penuh pelajaran. Pertama, karena bertepatan dengan maulid Nabi Muhammad SAW. Kedua, karena pada hari itu adalah tanggal jatuhnya Andalus di jazirah Spanyol, lepas dari kekuasaan Islam.

Makna kelahiran Nabi adalah spirit perubahan dan perbaikan akhlaq. Dalam perjalanan hidup Rasulullah, ada banyak momen perubahan, bahkan revolusi. Sejak hati Nabi dibersihkan oleh malaikat, datangnya wahyu iqra', hijrah ke Yastrib, hingga kejayaan Islam, semua mengandung pesan perubahan.

Perubahan pertama, adalah membersihkn hati dan mawas diri, menghilangkn semua prasangka buruk. Revolusi hanya bisa dimulai dari hati yg bersih. Terangnya hati (nurani) adalah modal kita menerima kebenaran wahyu Allah. Sementara hati yang gelap (zulmani) menghalangi kita dari semua wahyu dan kebaikan dari Allah SWT.

Wahyu "Bacalah" yang diikuti dengan "Hai Orang Berselimut" adalah pesan untuk memahami dan bertindak mengubah keadaan. Tidak membiarkan diri dalam kegelapan, tidak juga berpangku tangan. Wahyu "Bacalah" yang dilanjutkan dengan "Wahai Orang Berselimut" adalah ajakan revolusi pertama. Pesan utamanya: jangan takut!

Simbol perubahan dalam sirah nabawiyah adalah hijrah dari Makkah ke Yasthrib. Tindakan yang pada mulanya bersifat taktis, menghindari teror kafir Quraisy, berubah menjadi tonggak peradaban luar biasa. Yang dibawa Rasulullah bukan semata ajaran kesalehan individual, tapi cetak biru revolusi damai membangun peradaban yang memuliakan manusia.

Rasulullah mentransformasi kesalehan pribadi yang tunggal orang per orang menjadi peradaban hingga mencapai 2 miliar umat Islam sekarang. Jika dihitung matematis, hanya dalam waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari sejak diangkat, Rasulullah SAW membangun peradaban. Belum pernah ada perubahan sosial, bahkan revolusi yang lebih cepat dan luas dari penyebaran Islam seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

Revolusi Islam oleh Rasulullah SAW bisa diibaratkan gerakan shalat, diawali takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam ke kiri ke kanan. Inti ajaran Islam adalah hablumminallah dan hablumminannas yang seimbang, dan itu dimulai dengan revolusi kesadaran berupa tauhid. Karena itu, memperingati Maulid Nabi SAW selalu relevan sampai kapanpun.

Pada saat yang sama kita belajar dari kejatuhan Andalus. Seperti sisi antagonis dari koin yang sama. Andalus adalah wilayah kekhalifahan Umayyah di semenanjung Iberia. Kalau sekarang mencakup sebagian Spanyol, Portugal hingga ke Perancis selatan. Andalus sempat menjadi ibukota sains dan teknologi (khususnya kedokteran) dunia. Cendekiawan besar tinggal dan berkarya di daerah itu.

Ilmuwan dan filsuf seperti Abul Qasim, Ibnu Rusyd atau Ibnu Sina berpengaruh besar terhadap kehidupan intelektual Eropa zaman pertengahan. Muslim dan non muslim datang dari luar negeri untuk belajar di berbagai perpustakaan dan universitas terkenal.

Konflik elite politik, khususnya jatuhnya Umayyah oleh Abbasiyah, melemahkan sendi-sendi politik Andalus. Konflik ini pula yang membuat serangan dari luar sedikit demi sedikit menggerus wilayah Andalus. Andalus bertahan 800 tahun sebelum masalah internal dan serangan musuh melenyapkan tatanan peradaban Islam itu. Kini kita masih bisa melihat warisan fisiknya di Spanyol, sekitar Sevilla, Granada, sampai Lisboa di Portugal. Beruntung kita dapat merenungkan makna dua peristiwa penting itu pada hari yang sama tahun ini.

Dari Maulid Nabi SAW kita belajar tentang perubahan dan perbaikan akhlaq pada berbagai tonggak waktu kehidupan. Perjalanan Rasulullah SAW adalah kisah transformasi kesalehan individu menjadi tatanan peradaban, dari 1 orang sampai 2 miliar manusia. 

Andalus adalah kisah tentang kejayaan peradaban Islam yang terpaksa kalah oleh konflik politik. Andalus adalah monumen kecendekiawanan muslim yang harus terus kita hidupkan. Membaca sejarah Andalus hari ini bisa menerbitkan ketakutan, tapi di situ juga kita membaca harapan, bahwa kebangkitan Islam adalah keniscayaan.

Kala filsafat, sains, dan teknologi melebur dalam khazanah pemikiran dan peradaban Islam, maka kita akan menyuarakan keadilan dan kebenaran dengan lantang. Islam pernah meletakkan pijakan peradaban yang amat kokoh di Eropa kala itu. Bukan tidak mungkin di suatu persimpangan sejarah nanti Islam dan Barat akan bertemu kembali. "Barat" bukan berarti negara atau kepentingan geopolitik tertentu, tapi tradisi berpikir kefilsafatan yang rasional & sistematis.

Kewajiban umat Islam, khususnya para alim ulama dan pemikirnya, untuk mendorong keterbukaan dialog-dialog yang cerdas dengan menghadirkan Islam ke tengah-tengah kehidupan kita dalam bahasa peradaban yang santun.

Darah sudah terlalu banyak mengalir karena kebencian. Sudah saatnya kita mengakhirinya. Kita mulai lembaran dialog baru yang dilandasi oleh cinta dan kebebasan. Sudah waktunya Islam dengan kebenarannya dapat menjadi solusi bagi masalah-masalah bersama yang sedang dihadapi umat manusia. Islam pernah menyumbang peradaban dunia, lewat pintu Andalus atau Utsmaniyah. Kini Islam akan tetap menyumbang untuk dunia.

Mari terus belajar dari peristiwa-peristiwa sejarah penting untuk menatap masa depan. Islam di Indonesia akan menjadi salah satu pilar peradaban muslim. Mari kita tetap terus berdoa agar Allah SWT selalu memberkahi Indonesia. Kobarkan Semangat Indonesia!!! 
Share on Google Plus

About PeKaeS Makassar

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar